Sabtu, 30 Juni 2012
Penemuan Terbaru Lab. Amerika
Rekor Menciptakan Suhu Terpanas di Dunia
Suhu itu 250 ribu kali lebih panas dibanding matahari.
Laboratorium fisika partikel di Amerika Serikat dilaporkan berhasil
menciptakan rekor dunia untuk pembuatan suhu tertinggi buatan manusia.
Dilansir UPI,
Sabtu 30 Juni 2012, Relativistic Heavy Ion Collider (RHIC) di
Brookhaven National Laboratory di New York, AS, menabrakkan ion emas
yang mendekati kecepatan cahaya dengan energi intens, hingga akhirnya
menciptakan suhu di sekitar 4 triliun derajat Celsius atau 250 ribu kali
lebih panas dibanding matahari.
Energi neutron dan proton yang
ada di dalam inti emas 'meleleh', kemudian melepas quark serta gluon
dasar yang membentuk plasma primordial bebas friksi yang hanya ada saat
Big Bang terjadi. "Ada banyak hal keren dari materi super panas ini,"
kata fisikawan Steven Vigdor.
Sementara itu, Conseil Europene
pour la Recherche Nuclaire (CERN), sebuah dewan yang didirikan untuk
mendiskusikan pembangunan fasilitas penelitian fisika nuklir di Eropa,
juga sedang mencoba menabrakkan ion timah di Large Hadron Collider (LHC)
miliknya untuk mengulang penciptaan Big Bang.
Namun, mereka
belum menerbitkan pengukuran suhu resminya. Sehingga membuat pencapaian
RHIC menjadi rekor dunia untuk suhu terpanas saat ini.
Sumber : http://teknologi.vivanews.com
Serba-serbi Piala Euro 2012
Silva: Spanyol Percaya Diri Lawan Italia
"Kami berhasil mengatasi dua tim papan atas, Portugal dan Prancis."
Italia melaju ke final usai menaklukkan Jerman 2-1 di semifinal Kamis kemarin. Di laga tersebut, Italia menampilkan permainan memukau dengan merusak permainan Jerman yang tampil dominan. Hal ini membuat sejumlah pihak mengunggulkan Italia bakal memenangi laga final
Namun Silva tidak gentar dengan prediksi tersebut. Spanyol menurutnya saat ini sedang berada dalam kepercayaan diri tinggi. Mengacu pada prestasi tim matador menaklukkan dua kandidat juara di babak knock out.
"Tidak ada keraguan bahwa Italia adalah lawan yang sangat sulit. Tapi kami berhasil mengatasi dua tim papan atas, Portugal dan Prancis. Tujuan kami sudah jelas tidak berubah (juara Eropa). Dan kepercayaan diri kami sangat tinggi saat ini," ujar Silva seperti dilansir situs resmi FIFA, Sabtu, 30 Juni 2012.
"Kami telah bekerja keras untuk mencapai final. Untuk mencapai tujuan itu, kami telah bermain pada tingkat tertinggi. Kami harus menang. Jika kami mampu melakukannya, itu akan menjadi pencapaian bersejarah," paparnya.
Gelandang Manchester City itu menjamin laga nanti akan lebih sengit ketimbang pertemuan pertama mereka di babak penyisihan. Karena di laga nanti bakal menentukan status juara atau pecundang.
"Laga melawan Italia di penyisihan memang cukup sulit. Tetapi kedua tim tahu bahwa kekalahan di laga itu tidak akan langsung menyingkirkan kita. Tentu saja, sekarang situasinya sangat berbeda, karena laga nanti menentukan pemenang atau pecundang," tandasnya.
Sumber : http://bola.vivanews.com
Jumat, 29 Juni 2012
Tentang Piala Euro 2012
Bungkam Jerman, Italia Tantang Spanyol
Jerman sebenarnya tampil dominan sejak babak pertama. Namun selalu gagal menembus pertahanan Italia. Andrea Pirlo Cs justru mampu tampil efektif dalam memaksimalkan peluang dengan mencetak dua gol lewat serangan balik mematikan. Dua gol Italia diborong Mario Balotelli.
Tertinggal dua gol, Jerman coba melakukan perubahan di awal babak kedua dengan memasukkan marco Reus dan Miroslav Klose untuk menggantikan Lukas Podolski dan Mario Gomez. Hasilnya cukup signifikan, serangan Jerman semakin tajam dalam mendobrak pertahanan Italia.
Italia harus pontang-panting menghadang serangan spartan Jerman. Der Panzer nyaris mengejar ketertinggalan di menit 62 lewat tendangan bebas Marco Reus. Namun, sepakan keras gelandang kreatif Jerman itu masih bisa dihalau Buffon.
Di tengah tekanan yang diberikan Jerman, Italia sempat mencuri kesempatan dan nyaris menambah keunggulan lewat aksi pemain pengganti, Antonio Di Natale di menit 82. Sayang masih melebar ke sisi kiri gawang.
Jerman baru bisa mencetak gol di penghujung laga. Gol tercipta melalui penalti yang diberikan wasit setelah Balzaretti melakukan handsball di area terlarang. Mesut Oezil yang menjadi eksekutor, sukses melaksanakan tugasnya dan mengubah skor menjadi 2-1.
Sayang, Jerman tidak dapat menambah gol lagi di waktu yang tersisa. Alhasil, Jerman harus memupus ambisinya berlaga di laga puncak Kejuaran Eropa 2012. Sementara dengan kemenangan ini, Italia akan menantang juara bertahan, Spanyol yang telah menunggu di final.
Susunan Pemain:
Jerman: Manuel Neuer; Holger Badstuber, Mats Hummels, Philipp Lahm, Jerome Boateng (Thomas Muller, 71'); Sami Khedira, Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski (Reus, 46'), Toni Kroos, Mesut Ozil, Mario Gomez (Miroslav Klose, 46')
Italia: Gianluigi Buffon; Leonardo Bonucci, Andrea Barzagli, Giorgio Chiellini, Federico Balzaretti; Andrea Pirlo, Riccardo Montolivo (Thiago Motta, 64'), Daniele De Rossi, Claudio Marchisio; Antonio Cassano (Alessandro Diamanti, 58'), Mario Balotelli (Antonio Di Natale, 70')
Sumber : ola.vivanews.com
Hasil Semi Final Piala Euro 2012
Skandal Menjadi Keberuntungan Italia?
Dengan kemenangan ini, Italia berhak melenggang ke laga puncak menantang juara bertahan, Spanyol. Pencapaian ini menjadi prestasi tersendiri bagi Gli Azzuri. Pasalnya, Italia sempat diragukan dapat melangkah jauh di turnamen ini setelah beragam masalah membelit jelang turnamen.
Dua striker andalannya, Antonio Cassano dan Giuseppe Rossi mengalami cedera dan harus menjalani perawatan panjang sejak awal musim. Beruntung nama pertama berhasil cepat pulih dan bisa dibawa ke Ukraina dan Polandia. Selain itu bek Daniele Criscito harus ditinggal karena menjalani pemeriksaan usai dituduh terlibat skandal pengaturan skor.
Namun jika ada yang beranggapan skandal pengaturan skor menjadi salah satu masalah yang merusak konsentrasi Italia, berarti tidak mengetahui sejarah Italia. Tidak bisa disangkal jika skandal kerap menjadi seperti keberuntungan bagi Italia menjalani turnamen resmi.
Tercatat, Italia dua kali sukses merengkuh gelar bergengsi kala dililit skandal seperti ini. Kesuksesan pertama terjadi di Piala Dunia 1982. Skandal suap yang membuat tim elit Italia, AC Milan degradasi ke Serie B justru membuat Italia tampil garang dan merengkuh gelar juara Piala Dunia.
Kesuksesan kedua terjadi pada Piala Dunia 2006. Italia yang kembali diterpa skandal suap yang membuat Juventus terdegradasi, mampu tampil dominan dengan menekuk Prancis di laga puncak. Dan tampaknya sejarah kembali terulang di tahun ini.
Sebelum berangkat ke Polandia dan Ukraina, Italia diterpa kasus tidak sedap terkait skandal suap yang melibatkan sejumlah klub dan pemain. Tapi hal itu justru membuat Italia bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya dengan melibas lawan-lawan yang menghadang sejak babak penyisihan.
Terakhir, di laga malam ini, Italia mampu menjungkalkan kandidat juara, Jerman dengan skor 2-1 di babak semifinal. Dengan kemenangan ini, Italia berhak melenggang ke final melawan juara bertahan, Spanyol. Layak disimak apakah skandal memang menjadi keberuntungan Italia saat menghadapi Spanyol di laga final nanti.
Sumber : http://bola.vivanews.com
Kamis, 28 Juni 2012
Tentang Piala Euro 2012
Spanyol, Calon Raja Sejati Benua Eropa
| spanyol rayakan kemenangan |
Sejarah baru sepakbola Eropa bisa saja terjadi pada awal bulan Juli
nanti. Spanyol sukses melangkah ke final Piala Eropa 2012 dan membuka
peluang jadi negara pertama yang sukses mempertahankan mahkota juara
Eropa.
Kesempatan yang ada di tangan Spanyol saat ini merupakan sebuah kejadian langka. Sepanjang sejarah kejuaraan Piala Eropa sejak bergulir pertama kali tahun 1960, belum ada satu pun negara yang berhasil mempertahankan gelar mereka pada edisi selanjutnya.
Langkah Spanyol ke final juga terhitung spesial. Sampai saat ini tercatat hanya satu kali saja kejadian itu terjadi sebelumnya. Pada tahun 1972, Jerman Barat berhasil menjadi juara lalu kembali jadi finalis empat tahun kemudian, sebelum dikalahkan Cekoslovakia.
Bagi Spanyol, jika berhasil kembali jadi kampiun maka mereka akan menyamai pencapaian Jerman yang sudah tiga kali jadi juara Eropa. Sebelumnya Spanyol juara pada tahun 1964 serta 2008.
Performa fantastis Spanyol selama kualifikasi, ditambah embel-embel status juara dunia, membuat 'Tim Matador' tetap dijagokan sebagai favorit juara sebelum turnamen ini berlangsung.
Kehilangan dua pilar utama pun dianggap tidak akan mengurangi kualitas Spanyol. David Villa dinilai masih bisa digantikan oleh Fernando Torres atau Cesc Fabregas, sedangkan posisi Carles Puyol masih bisa diisi oleh Sergio Ramos.
Jalan Berlubang Menuju Sejarah
Namun, perjalanan Spanyol menuju partai final ternyata tidak semulus perkiraan. Bergabung dengan Grup C, 'La Roja' harus puas bermain imbang pada laga pertama melawan Italia.
Beruntung, anak asuh Vicente Del Bosque mampu lolos ke perempat-final usai membungkam Republik Irlandia 4-0 lalu menang 1-0 atas Kroasia lewat gol telat Jesus Navas.
Pada babak delapan besar, Spanyol ditantang oleh salah satu tim muda yang dijagokan jadi kuda hitam, Prancis. Memiliki amunisi top macam Karim Benzema, Samir Nasri dan Laurent Cabaye, 'Les Bleus' berambisi menghentikan langkah Spanyol.
Namun pasukan Laurent Blanc itu masih belum bisa membendung determinasi Spanyol saat itu yang dipimpin oleh Xabi Alonso. Dua gol punggawa Real Madrid itu membuat Prancis harus berkemas lebih cepat.
Status favorit buat Spanyol mulai luntur memasuki babak semifinal. Performa menawan Cristiano Ronaldo membuat Portugal sedikit dijagokan. Faktor tersebut ditambah tekanan historis sepertinya sedikit mempengaruhi penampilan Spanyol di semifinal.
Skema 'tiki-taka' yang mereka andalkan mandek. Operan-operan pendek yang mereka andalkan sering salah arah, tusukan-tusukan dari lini kedua pun sering tidak berjalan. Berbekal pertahanan solid, 'Seleccao' tampil lebih dominan sepanjang 90 menit awal.
Namun, memasuki babak tambahan mental juara Spanyol muncul. Meski terus ditekan, perlahan 'La Roja' mengambil alih alur pertandingan dan mulai balik menciptakan berbagai peluang.
"Portugal memang lebih superior dalam posisi bertahan. Kami tidak terlalu banyak membuat peluang, jadi tadi cukup berimbang," ujar Vicente Del Bosque usai laga, seperti dilansir UEFA.com.
Pada babak drama adu penalti, lagi-lagi mental juara Spanyol berbicara. Setelah Xabi Alonso gagal menunaikan tugasnya, Andres Iniesta, Gerard Pique dan Sergio Ramos berhasil memperpanjang nafas sang juara bertahan.
Beruntung, penendang keempat Portugal, Bruno Alves, gagal. Tendangan Cesc Fabregas pun membawa Spanyol ke partai puncak. Del Bosque menganggap timnya masih berada dalam dekapan dewi fortuna.
"Pada perpanjangan waktu, semuanya sedikit berbeda, dan kami mendapatkan keberuntungan lebih banyak saat adu penalti. Saya ingin memberikan selamat pada Portugal karena menjalani turnamen yang luar biasa, tapi kami lebih beruntung kali ini," lanjut sang entrenador.
Lunturnya Superioritas 'Tiki-taka'
Pada awal bergulirnya Piala Eropa 2012 ini muncul anggapan bahwa sudah ditemukannya antithesis skema 'tiki-taka' Spanyol, di mana Xavi Hernandez menjadi motor utama dengan dibantu rekan setimnya di tim asal Catalonia, Andres Iniesta.
Permainan defensif ketat yang dipadu determinasi tinggi berhasil membuat Italia mencuri satu poin pada fase grup, sekarang Portugal juga berhasil melakukan hal serupa, meski hasil akhirnya berbeda.
Sepanjang 2008 sampai 2010, permainan umpan-umpan pendek yang dipadu dengan pergerakan dari belakang pemain lain itu berhasil menghadiahi Spanyol dua gelar besar. Namun saat ini gaya bermain yang menguasai sebagian besar possession itu mulai dianggap membosankan.
Spanyol kerap terlalu lama memainkan bola di lini tengah dan jarang membuat peluang berbahaya. Apalagi dalam Piala Eropa kali ini Del Bosque kadang menurunkan formasi tanpa penyerang murni.
Tudingan bahwa saat ini Spanyol sudah tidak garang dan lebih fokus pada pertahanan muncul. Donbass Arena bahkan sempat dipenuhi siulan setiap Spanyol memegang bola. Tapi hal tersebut langsung dibantah, meski menilai solidnya lini belakang mereka bisa jadi kunci sukses di Polandia-Ukraina.
"Kami tidak ingin hanya bertahan, kami juga ingin menyerang. Tentu saja, pertahanan kami berkembang dan itu terjadi berkat karakteristik para pemain. Kami sangat senang dengan hal tersebu dan itu akan membantu kami meraih sukses selanjutnya," jawab Del Bosque.
Dengan hasil ini berarti Spanyol menunggu pemenang antara Jerman melawan Italia yang baru akan digelar hari Kamis, 28 Juni 2012 atau Jumat dini hari WIB di National Stadium Warsawa. Laga final sendiri akan digelar pada 1 Juli 2012 di Kiev. Berhasilkan Spanyol jadi juara sejati benua Eropa? Kita tunggu saja.
Kesempatan yang ada di tangan Spanyol saat ini merupakan sebuah kejadian langka. Sepanjang sejarah kejuaraan Piala Eropa sejak bergulir pertama kali tahun 1960, belum ada satu pun negara yang berhasil mempertahankan gelar mereka pada edisi selanjutnya.
Langkah Spanyol ke final juga terhitung spesial. Sampai saat ini tercatat hanya satu kali saja kejadian itu terjadi sebelumnya. Pada tahun 1972, Jerman Barat berhasil menjadi juara lalu kembali jadi finalis empat tahun kemudian, sebelum dikalahkan Cekoslovakia.
Bagi Spanyol, jika berhasil kembali jadi kampiun maka mereka akan menyamai pencapaian Jerman yang sudah tiga kali jadi juara Eropa. Sebelumnya Spanyol juara pada tahun 1964 serta 2008.
Performa fantastis Spanyol selama kualifikasi, ditambah embel-embel status juara dunia, membuat 'Tim Matador' tetap dijagokan sebagai favorit juara sebelum turnamen ini berlangsung.
Kehilangan dua pilar utama pun dianggap tidak akan mengurangi kualitas Spanyol. David Villa dinilai masih bisa digantikan oleh Fernando Torres atau Cesc Fabregas, sedangkan posisi Carles Puyol masih bisa diisi oleh Sergio Ramos.
Jalan Berlubang Menuju Sejarah
Namun, perjalanan Spanyol menuju partai final ternyata tidak semulus perkiraan. Bergabung dengan Grup C, 'La Roja' harus puas bermain imbang pada laga pertama melawan Italia.
Beruntung, anak asuh Vicente Del Bosque mampu lolos ke perempat-final usai membungkam Republik Irlandia 4-0 lalu menang 1-0 atas Kroasia lewat gol telat Jesus Navas.
Pada babak delapan besar, Spanyol ditantang oleh salah satu tim muda yang dijagokan jadi kuda hitam, Prancis. Memiliki amunisi top macam Karim Benzema, Samir Nasri dan Laurent Cabaye, 'Les Bleus' berambisi menghentikan langkah Spanyol.
Namun pasukan Laurent Blanc itu masih belum bisa membendung determinasi Spanyol saat itu yang dipimpin oleh Xabi Alonso. Dua gol punggawa Real Madrid itu membuat Prancis harus berkemas lebih cepat.
Status favorit buat Spanyol mulai luntur memasuki babak semifinal. Performa menawan Cristiano Ronaldo membuat Portugal sedikit dijagokan. Faktor tersebut ditambah tekanan historis sepertinya sedikit mempengaruhi penampilan Spanyol di semifinal.
Skema 'tiki-taka' yang mereka andalkan mandek. Operan-operan pendek yang mereka andalkan sering salah arah, tusukan-tusukan dari lini kedua pun sering tidak berjalan. Berbekal pertahanan solid, 'Seleccao' tampil lebih dominan sepanjang 90 menit awal.
Namun, memasuki babak tambahan mental juara Spanyol muncul. Meski terus ditekan, perlahan 'La Roja' mengambil alih alur pertandingan dan mulai balik menciptakan berbagai peluang.
"Portugal memang lebih superior dalam posisi bertahan. Kami tidak terlalu banyak membuat peluang, jadi tadi cukup berimbang," ujar Vicente Del Bosque usai laga, seperti dilansir UEFA.com.
Pada babak drama adu penalti, lagi-lagi mental juara Spanyol berbicara. Setelah Xabi Alonso gagal menunaikan tugasnya, Andres Iniesta, Gerard Pique dan Sergio Ramos berhasil memperpanjang nafas sang juara bertahan.
Beruntung, penendang keempat Portugal, Bruno Alves, gagal. Tendangan Cesc Fabregas pun membawa Spanyol ke partai puncak. Del Bosque menganggap timnya masih berada dalam dekapan dewi fortuna.
"Pada perpanjangan waktu, semuanya sedikit berbeda, dan kami mendapatkan keberuntungan lebih banyak saat adu penalti. Saya ingin memberikan selamat pada Portugal karena menjalani turnamen yang luar biasa, tapi kami lebih beruntung kali ini," lanjut sang entrenador.
Lunturnya Superioritas 'Tiki-taka'
Pada awal bergulirnya Piala Eropa 2012 ini muncul anggapan bahwa sudah ditemukannya antithesis skema 'tiki-taka' Spanyol, di mana Xavi Hernandez menjadi motor utama dengan dibantu rekan setimnya di tim asal Catalonia, Andres Iniesta.
Permainan defensif ketat yang dipadu determinasi tinggi berhasil membuat Italia mencuri satu poin pada fase grup, sekarang Portugal juga berhasil melakukan hal serupa, meski hasil akhirnya berbeda.
Sepanjang 2008 sampai 2010, permainan umpan-umpan pendek yang dipadu dengan pergerakan dari belakang pemain lain itu berhasil menghadiahi Spanyol dua gelar besar. Namun saat ini gaya bermain yang menguasai sebagian besar possession itu mulai dianggap membosankan.
Spanyol kerap terlalu lama memainkan bola di lini tengah dan jarang membuat peluang berbahaya. Apalagi dalam Piala Eropa kali ini Del Bosque kadang menurunkan formasi tanpa penyerang murni.
Tudingan bahwa saat ini Spanyol sudah tidak garang dan lebih fokus pada pertahanan muncul. Donbass Arena bahkan sempat dipenuhi siulan setiap Spanyol memegang bola. Tapi hal tersebut langsung dibantah, meski menilai solidnya lini belakang mereka bisa jadi kunci sukses di Polandia-Ukraina.
"Kami tidak ingin hanya bertahan, kami juga ingin menyerang. Tentu saja, pertahanan kami berkembang dan itu terjadi berkat karakteristik para pemain. Kami sangat senang dengan hal tersebu dan itu akan membantu kami meraih sukses selanjutnya," jawab Del Bosque.
Dengan hasil ini berarti Spanyol menunggu pemenang antara Jerman melawan Italia yang baru akan digelar hari Kamis, 28 Juni 2012 atau Jumat dini hari WIB di National Stadium Warsawa. Laga final sendiri akan digelar pada 1 Juli 2012 di Kiev. Berhasilkan Spanyol jadi juara sejati benua Eropa? Kita tunggu saja.
Sumber : http://bola.vivanews.com
Fakta Menarik Jerman Vs Italia
Fakta Menarik Jerman Vs Italia
| Tim Jerman |
Meski lebih diunggulkan saat menghadapi Italia di semifinal Kejuaraan
Eropa 2012, Jerman ternyata punya rekor buruk menghadapi Gli Azzurri.
Berikut ini adalah fakta-fakta menarik jelang pertemuan kedua tim di
Stadion Nasional Warsawa, Kamis 28 Juni 2012 waktu setempat (Jumat dini
hari WIB.
Italia
• Italia sudah bertemu dengan Jerman 30 kali sepanjang sejarah. Italia unggul dengan 14 kemenangan, sembilan kalah dan tujuh kali imbang.
• Italia tidak pernah kalah dari Jerman dalam tujuh pertandingan kompetitif di Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa. Gli Azzurri meraih tiga kemenangan dan empat kali imbang, termasuk dua di laga Kejuaraan Eropa 1988 (1-1) dan 1996 (0-0).
• Dari lima pertemuan terakhir melawan Jerman, Italia tidak pernah kalah: Tiga kali menang dan dua imbang. Terakhir kedua tim bertemu pada laga persahabatan di Signal-Iduna Park Dortmund yang berakhir imbang 1-1, 9 Februari 2011.
• Dari sepuluh semifinal di turnamen bergengsi, Italia hanya gagal ke final sebanyak dua kali: Kalah 0-2 dari Uni Soviet pada Kejuaran Eropa 1988 dan kalah adu penalti dari Argentina di Piala Dunia 1990.
• Italia baru mencetak empat gol di Kejuaraan Eropa 2012. Sejak Kejuaraan Eropa 1996, tidak ada tim yang mampu melangkah ke semifinal dengan hanya mengoleksi empat gol.
• Enam dari tujuh gol terakhir Italia di Kejuaraan Eropa tercipta melalui bola mati. Sedangkan 11 dari 12 gol terakhir Jerman berasal dari permainan terbuka.
• Italia hanya mampu meraih satu kemenangan dari tujuh pertandingan terakhir di waktu normal. Kemenangan 2-0 atas Republik Irlandia di babak grup, mengakhiri rekor enam pertandingan tanpa kemenangan beruntun Italia di turnamen bergengsi.
• Italy tidak pernah mampu mencetak gol di babak tambahan dari tujuh pertandingan Kejuaraan Eropa.
• Gelandang Italia Andrea Pirlo melakukan 146 umpan saat melawan Inggris dan menyelesaikan 117 kali, termasuk di babak tambahan. Terbanyak di Kejuaraan Eropa 2012.
• Bek Christian Maggio akan absen melawan Jerman karena akumulasi kartu kuning.
Jerman
• Jerman telah tampil di 17 semifinal kejuaraan bergengsi, lolos ke final 11 di antaranya. Dari enam semifinal di Kejuaraan Eropa, Jerman menang lima di antaranya, namun tidak pernah bertemu dengan Italia.
• Jerman menjadi satu-satunya tim di Kejuaraan Eropa 2012 yang selalu meraih kemenangan di empat laga. Der Panzer kini telah memenangi 15 laga kompetitif terakhir, rekor sepanjang sejarah Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB)
• Dari 20 pertandingan terakhir mereka, Jerman selalu mencetak gol dengan torehan 51 gol.
• Tiga gol yang dicetak Miroslav Klose di Kejuaraan Eropa tercipta melalui sundulan. Sedangkan 17 gol dari semua gol Klose di turnamen bergengsi, sepuluh di antaranya tercipta lewat sundulan.
• Semifinal melawan Italia akan menjadi pertandingan ke-84 bagi pelatih Joachim Loew bersama Jerman. Loew memiliki rekor 52 kemenangan dan 12 kali kalah. Loew hanya kalah dari Berti Vogts (102 pertandingan), Helmut Schon (139 pertandingan) dan Sepp Herberger (167 pertandingan).
Italia
• Italia sudah bertemu dengan Jerman 30 kali sepanjang sejarah. Italia unggul dengan 14 kemenangan, sembilan kalah dan tujuh kali imbang.
• Italia tidak pernah kalah dari Jerman dalam tujuh pertandingan kompetitif di Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa. Gli Azzurri meraih tiga kemenangan dan empat kali imbang, termasuk dua di laga Kejuaraan Eropa 1988 (1-1) dan 1996 (0-0).
• Dari lima pertemuan terakhir melawan Jerman, Italia tidak pernah kalah: Tiga kali menang dan dua imbang. Terakhir kedua tim bertemu pada laga persahabatan di Signal-Iduna Park Dortmund yang berakhir imbang 1-1, 9 Februari 2011.
• Dari sepuluh semifinal di turnamen bergengsi, Italia hanya gagal ke final sebanyak dua kali: Kalah 0-2 dari Uni Soviet pada Kejuaran Eropa 1988 dan kalah adu penalti dari Argentina di Piala Dunia 1990.
• Italia baru mencetak empat gol di Kejuaraan Eropa 2012. Sejak Kejuaraan Eropa 1996, tidak ada tim yang mampu melangkah ke semifinal dengan hanya mengoleksi empat gol.
• Enam dari tujuh gol terakhir Italia di Kejuaraan Eropa tercipta melalui bola mati. Sedangkan 11 dari 12 gol terakhir Jerman berasal dari permainan terbuka.
• Italia hanya mampu meraih satu kemenangan dari tujuh pertandingan terakhir di waktu normal. Kemenangan 2-0 atas Republik Irlandia di babak grup, mengakhiri rekor enam pertandingan tanpa kemenangan beruntun Italia di turnamen bergengsi.
• Italy tidak pernah mampu mencetak gol di babak tambahan dari tujuh pertandingan Kejuaraan Eropa.
• Gelandang Italia Andrea Pirlo melakukan 146 umpan saat melawan Inggris dan menyelesaikan 117 kali, termasuk di babak tambahan. Terbanyak di Kejuaraan Eropa 2012.
• Bek Christian Maggio akan absen melawan Jerman karena akumulasi kartu kuning.
Jerman
• Jerman telah tampil di 17 semifinal kejuaraan bergengsi, lolos ke final 11 di antaranya. Dari enam semifinal di Kejuaraan Eropa, Jerman menang lima di antaranya, namun tidak pernah bertemu dengan Italia.
• Jerman menjadi satu-satunya tim di Kejuaraan Eropa 2012 yang selalu meraih kemenangan di empat laga. Der Panzer kini telah memenangi 15 laga kompetitif terakhir, rekor sepanjang sejarah Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB)
• Dari 20 pertandingan terakhir mereka, Jerman selalu mencetak gol dengan torehan 51 gol.
• Tiga gol yang dicetak Miroslav Klose di Kejuaraan Eropa tercipta melalui sundulan. Sedangkan 17 gol dari semua gol Klose di turnamen bergengsi, sepuluh di antaranya tercipta lewat sundulan.
• Semifinal melawan Italia akan menjadi pertandingan ke-84 bagi pelatih Joachim Loew bersama Jerman. Loew memiliki rekor 52 kemenangan dan 12 kali kalah. Loew hanya kalah dari Berti Vogts (102 pertandingan), Helmut Schon (139 pertandingan) dan Sepp Herberger (167 pertandingan).
Sumber : http://bola.vivanews.com
Langganan:
Komentar (Atom)
Daftar Blog XI Multimedia
Diberdayakan oleh Blogger.



